Mesin Jelantah Masih Sulit Dijangkau

Upaya Pertamina mendorong pengelolaan minyak jelantah melalui penempatan mesin penampung minyak bekas mendapat apresiasi. Namun, efektivitas program tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi pemerataan lokasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Berdasarkan pantauan awak media, mesin penampung minyak jelantah yang bekerja sama dengan UCollect itu masih sangat jarang ditemui. Alat tersebut hanya tersedia di sejumlah SPBU tertentu sehingga belum mudah diakses masyarakat luas.

Kondisi ini berpotensi membuat tujuan program belum tercapai secara maksimal. Sebab, tidak semua warga memiliki waktu atau akses menuju SPBU yang menyediakan fasilitas tersebut. Akibatnya, minyak jelantah rumah tangga masih banyak yang dibuang begitu saja atau dijual melalui jalur yang tidak terpantau.

Sejumlah warga mengaku baru mengetahui keberadaan mesin tersebut setelah melihatnya langsung di SPBU. Minimnya sosialisasi membuat sebagian besar masyarakat belum memahami bahwa minyak jelantah kini dapat ditukarkan menjadi nilai ekonomi melalui aplikasi yang telah disediakan.
Agar program berjalan lebih efektif, Pertamina dinilai perlu mempertimbangkan penempatan mesin di lokasi yang lebih dekat dengan masyarakat, seperti kantor kelurahan, balai warga, pasar tradisional, kawasan permukiman, hingga lingkungan RT dan RW. Dengan lokasi yang lebih mudah dijangkau, partisipasi masyarakat diperkirakan akan meningkat.

Selain memperluas titik penempatan, sosialisasi juga menjadi pekerjaan rumah. Informasi mengenai manfaat, tata cara penggunaan, serta lokasi mesin penampung perlu disampaikan secara lebih masif melalui media sosial, pemerintah daerah, komunitas warga, maupun jaringan RT/RW.
Program pengumpulan minyak jelantah sejatinya memiliki manfaat ganda. Selain membantu menjaga lingkungan dari pencemaran limbah minyak, program ini juga memberikan nilai ekonomi kepada masyarakat. Namun, tanpa akses yang mudah dan penyebaran informasi yang memadai, manfaat tersebut dikhawatirkan belum dapat dirasakan secara luas.

Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang disediakan, tetapi juga oleh kemudahan akses dan sejauh mana masyarakat mengetahui serta terdorong untuk memanfaatkannya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *